KATA
PENGANTAR
Dengan menyebut nama
Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji
syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul ‘Teori-teori Kepemimpinan’’.
Makalah ini telah
penulis susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak
sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu penulis
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua
itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar penulis dapat
memperbaiki makalah.
Akhir kata penulis
berharap semoga makalah Sumpah Pemuda ini dapat memberikan manfaat maupun
inpirasi terhadap pembaca.
Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kepemimpinan
merupakan tema yang populer, yang tidak saja dibicarakan dan diteliti oleh para
sarjana ilmu-ilmu sosial, ilmu perilaku, tapi yang dibicarakan pula oleh
masyarakat pada umumnya. Meskipun telah banyak teori kepemimpinan yang
dikembangkan, belum ada satu teori pun yang dirasakan paling sempurna.
Stogdill
(1974) menyatakan bahwa jumlah macam batasan tentang kepemimpinan dapat
dikatakan sama dengan jumlah orang yang telah mencoba membuat batasan tentang
pengertian tersebut. Kepemimpinan merupakan sesuatu yang penting bagi manajer.
Para manajer merupakan pemimpin (dalam organisasi mereka), sebaliknya pemimpin
tidak perlu menjadi manajer. Kepemimpinan lebih berhubungan dengan efektivitas,
sadangkan manajemeni lebih berhubungan dengan efisiensi.
Dalam
kepemimpinan terdapat hubungan antar manusia yaitu hubungan mempengaruhi (dari
pemimpin), dan hubungan kepatuhan-kepatuhan para pengikut/ bawahan karena
dipengaruhi oleh kewibawaan pemimpin. Para pengikut terkena pengaruh kekuatan
dari pemimpinya, dan bangkitlah secara spontan rasa ketaatan kepada pemimpin.
Pemimpin ada dua yaitu pemimpin formal, yaitu orang yang oleh organisasi
ditunjuk sebagai pemimpin, berdasarkan keputusan dan pengangkatan resmi untuk
memangku suatu jabatan dalam struktur organisasi dengan segala hak dan
kewajiban yang berkaitan denganya untuk mencapai sasaran organisasi. Pemimpin
informal, yaitu orang yang tidak mendapatkan pengangkatan formal sebagai
pemimpin; namun karena ia memiliki sejumlah kualitas unggul, dia mencapai
kedudukan sebagai orang yang mampu mempengaruhi kondisi psikis dan perilaku
suatu kelompok atau masyarakat.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya
adalah sebagai berikut:
1. Apa saja teori pembentukan
kepemimpinan?
2. Apa saja teori kepemimpinan?
C.
Tujuan
Berangkat dari rumusan masalah yang telah disebutkan di
atas, maka penulis bertujuan memberikan pemahaman mengenai:
1. Agar mengetahui teori pembentukan
kepemimpinan
2. Agar mengetahui teori kepemimpinan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Teori Pembentukan Kepemimpinan
Berdasarkan pengalaman kajian
empirik dan analisa para ahlia ada tiga teori tentang timbulnya
kepemimpinan yaitu:
1.
Teori Genetik, dimana seseorang telah ditakdirkan
untuk memiliki bakat-bakat kepemimpinan sejak ia dilahirkan sebagai suatu
keturunan menurut kodrat alam.
2.
Teori Sosial, yaitu seseorang bisa menjadi pemimpin
apabila ia dididik dan diberi pengalaman
tentang kepemimpinan.
3.
Teori Ekologis, teori ini lahir sebagai respon
terhadap kedua teori diatas dimana seseorang akan menjadipemimpin yang baik,
apabila sejak lahirnya dikaruniai bakat kepemimpinan yang dikembangkan secara
teratur dan pengalaman-pengalaman kerja sehingga bakatnya berkembang menjadi
kepribadiannya.
Sebenarnya
untuk lahirnya seorang pemimpin yang jitu, dapat memenuhi seluruh persyaratan
yang diharapkan sukar sekali. Juga untuk memperoleh seorang pemimpin itu tidak
mudah, begitu saja dicetak atau diproduksi dibangku sekoloah/pendidikan tetapi
kematangan seorang pemimpin itu akan dipengaruhi oleh :
1.
Nilai-nilai dan sikap pribadi.
2.
Pengetahuannya.
3.
Kecerdasannya.
4. Komunisakasi
dan ekologi yang memperhatikan adanya interaksi antara lingkungan dan manusia
itu baik lingkungan biologis, sosial maupun fisik.
Ukuran
sejati seorang pemimpin ialah kesangguapannya dalam mendapatkan orang-orang
lain bertindak, untuk membantu hasil-hasil yang akan dituju. Dasar pemimpin
yang baik ada tiga (3). Dugaan yang menjadi faktor utama dalam kemajuan yaitu :
1.
Seseorang bisa mendapatkan salah satu sumber
kepuasan yang tak terhingga misalnya didalam pekerjaannya yang dilakukannya.
2.
Dapat menciptakan syarat-syarat yang akan membantu
bawahannya mendapatkan kepuasan dalam pekerjaan.
3.
Orang-orang ingin memikul tanggung jawab.
Efektifitas
pemimpin akan langsung berhubungan dengan mutu keputusan-keputusan yang
diambilnya. Dengan cepat mencapai sasaran yang telah ditetapkan, tanpa adanya
penghamburan baik biaya maupun teknis-teknis penyelenggaraan. Kecakapan
kepemimpinan seseorang itu menurut banyak ditentukan oleh :
1.
Kondisi kemasakan kepemimpinan (Leadhership Maturity
Conditions).
2.
Hbungan antar pergaulan pemimpin (Leadership Human
Relationship).
3. Tugas
kewajiban kepemimpinan (Function Of
Leader). (Wiyono Hadikusumo : 1973).
Dalam hal
kemasakan kepemimpinan itu seseorang akan ditentukan oleh suatu tingkat dmana
terdapat pendewasaan dirinya dengan kesadaran penghayatan serta berminat
mempelajari segala sesuatu kekurangannya. Dalam hal ini akan Nampak sesuatu
kewibawaan serta kedewasaan apabila pada suatu waktu ia mengenai persoalan,
maka nampaklah pada dirinya suatu sikap kematangan emosional yang dapat
menguasai jiwanya dalam berbuat sesuatu, seperti :
1.
Pandangan yang terarah pada persoalan yang dihadapi
dengan kesiapan untuk menyelesaikannya.
2.
Kepercayaan akan kemampuan untuk dihadapi dengan
antusias untuk dirinya.
3.
Rasa tanggung jawab atas perbuatannya.
4.
Dasar pertimbangan yang objektif dan tidak
meragukan.
5.
Mau melakukannya dengan melakukan pengorbanan yang
terjadi pada dirinya.
6.
Serta kewibawaan yang memancar pada dirinya dimana
orang-orang merasa hormat dan segan kemampuan.
Arti
kepemimpinan yang efektif adalah sikap atas sikap dan perilaku bawahan.
Sehingga ia dalam sikap serta perbuatannya tidak ada yang tercela serta percaya
akan kemampuan yang ada pada dirinya. Dalam hubungan kemanusaiaan, serta
pemimpin dan bawahannya atau dengan para pemimpin yang lainnya hal itu terjadi
sebagai pelajaran manusia sosial. Dimana harus disadari bahwa manusia tidak
bisa hidup menyendiri terlepas dari yang lainnya. Yang jelas ia pasti akan
membutuhkannya. Apalagi bagi seseorang yang dinamakan pemimpin itu harus
mengadapi para bawahannya, mereka sebagai manusia mempunyai perasaan yang sama.
Hubungan-hubungan sosial adalah hubungan-hubungan batin yang senantiasa terjadi
dengan spontan apabila ada sejumlah manusia berada bersama-sama disuatu tempat
atau sewaktu-waktu, maka sadar maupun tidak hubungan ini akan terdapat. Sebab
hakikat manusia itu adalah merupakan jalinan individualitas dan makhluk sosial.
Kita harus mengetahui hal ikhwal pembantu-pembantu yang dekat, mereka nanti
akan mencontoh, dengan demikian sikap dan cara pemimpin akan ditiru
dilapisan-lapisanbawah. Sebagai penolong daya ingat, buatlah sistem kartu dari
pekerjaanya setiap dirinya pekerja yang memuat keterangan-keterangan hal ikhwal
dirinya. Sebelum berhubungan dengan seseorang bacalah dahulu kartu yang
bersangkutan dan wujudkan dalam pembicaraan bahwa kita benar-benar menaruh
perhatian pimpinan dirinya (sikap jiwa empathy). Kalau pekerja merasa atau
mendapat kesan bahwa dirinya diperhatikan oleh dirinya, maka ia merasa lebih
rela bekerja dengan sungguh-sungguh bahkan memberikan lebih daripada yang
diwajibkan, akhirnya bisa menimbulkan kesediaan mengarungi samudera dan lautan
apapun untuk pimpinannya itu. Inilah pertanda adanya human relation yang ideal,
pertanda-pertanda lain dengan adanya relation yang baik suasana psikologi yang
subur bagi perusahaan dan menyenangkan pesertanya, adanya keikhlasan yang baik
antar pemimpin dan bawahannya serta adanya usaha untuk merundingkan secara
damai dalam kerukunan kerja. Faktor komunikasi timbal balik serta disiplin
hidup dalam bekerja menimbulkan gairah kerja untuk mencapai hasil yang optimal.
Dalam hal ini fungsi dan tugas kepemimpinan sudah sewajarnya diketahui pimpinan
bahwa ia tahu wewenang yang diterimanya dengan disertai tanggung jawab dan
pertanggung jawabannya. Tugas utamanya terfokus pada upaya memberikan visi,
motivasi, inspirasi, atasan serta memfasilitasi dalam kerja sama untuk menentukan
perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan sehingga para bawahan
bisa mencapai tujuannya.
Semua
fungsi ini harus bisa diketahui oleh seorang pimpinan, ia tidak bisa mengelakan
dirinya bahwa dirinya tidak tahu semua itu. Ia bukan ditentukan oleh posisinya
tapi oleh fungsinya sebagai pemimpin serta kompetensi kepemimpinan yang
dimilikinya.
B.
Teori Kepemimpinan
Ada beberapa teori kepemimpinan yang dikemukakan anatara
lain:
1. Teori Sifat
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin
ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin
itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk
menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi
pemimpin. Kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan
berbagai sifat. Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang P
Siagian (1994:75-76) adalah:
a.
pengetahuan umum yang luas, daya ingat
yang kuat, rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas,
adaptabilitas, orientasi masa depan.
b.
sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa
kohesi yang tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap
yang antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integratif.
c.
kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang,
analitik, menentukan skala prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting,
keterampilan mendidik, dan berkomunikasi secara efektif.
Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain : terlalu
bersifat deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat yang dianggap
unggul dengan efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yang sudah
kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung
didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin; justru
sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.
2. Teori Perilaku
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang
individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian
tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
a.
konsiderasi dan struktur inisiasi
Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki
ciri ramah tamah,mau berkonsultasi, mendukung, membela,
mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta
memperlakukannya setingkat dirinya. Di samping itu terdapat pula kecenderungan
perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas organisasi.
b.
berorientasi kepada bawahan dan produksi
perilaku pemimpin yang berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekanan
pada hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan
kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku
bawahan. Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki
kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan
dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan.
Pada sisi lain, perilaku pemimpin menurut model leadership continuum pada
dasarnya ada dua yaitu berorientasi kepada pemimpin dan bawahan. Sedangkan
berdasarkan model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpin dapat diukur
melalui dua dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap bawahan/hubungan
kerja.
Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari
masalah fungsi dan gaya kepemimpinan (JAF.Stoner, 1978:442-443).
3. Teori Situasional
Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh
ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan
situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan
memperhitungkan faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh
terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129)
adalah:
1. Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas
2. Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan
3. Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan
4. Norma yang dianut kelompok
5. Rentang kendali
6. Ancaman dari luar organisasi
7. Tingkat stress
8. Iklim yang terdapat dalam organisasi.
Efektivitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kemampuan
"membaca" situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya kepemimpinannya
agar cocok dengan dan mampu memenuhi tuntutan situasi tersebut. Penyesuaian
gaya kepemimpinan dimaksud adalah kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan
perilaku tertentu karena tuntutan situasi tertentu.
4. Teori orang-orang terkemuka
Bernard, Bingham, Tead dan Kilbourne
menerangkan kepemimpinan berkenaan dengan sifat-sifat dasar kepribadian dan
karakter.
5. Teori lingkungan
Mumtord, menyatakan bahwa pemimpin
muncul oleh kemampuan dan keterampilan yang memungkinkan dia memecahkan masalah
sosial dalam keadaan tertekan, perubahan dan adaptasi. Sedangkan Murphy,
menyatakan kepemimpinan tidak terletak dalam dari individu melainkan merupakan
fungsi dari suatu peristiwa.
6. Teori
personal situasional
Case (1933) menyatakan bahwa
kepemimpinan dihasilkan dari rangkaian tiga faktor, yaitu sifat kepribadian
pemimpin, sifat dasar kelompok dan anggotanya serta peristiwa yang diharapkan
kepada kelompok.
7. Teori
interaksi harapan
Homan (1950) menyatakan semakin
tinggi kedudukan individu dalam kelompok maka aktivitasnya semakin meluas dan
semakin banyak anggota kelompok yang berhasil diajak berinteraksi.
8. Teori
humanistik
Likert (1961) menyatakan bahwa
kepemimpinan merupakan proses yang saling berhubungan dimana seseorang pemimpin
harus memperhitungkan harapan-harapan, nilai-nilai dan keterampilan individual
dari mereka yang terlibat dalam interaksi yang berlangsung.
9. Teori
pertukaran
Blau (1964) menyatakan pengangkatan
seseorang anggota untuk menempati status yang cukup tinggi merupakan manfaat
yang besar bagi dirinya. Pemimpin cenderung akan kehilangan kekuasaaanya bila
para anggota tidak lagi sepenuh hati melaksanakan segala kewajibannya.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
a) Teori
pembentukan kepemimpinan
Teori pembentukan kepemimpinan menurut Dr.
Sondang P. Siagian ada 3 :
1.
Teori genetik
2.
Teori sosial
3.
Teori ekologis
b) Teori kepemimpinan
Teori kepemimpinan adalah penggeneralisasian satu seni perilaku
pemimpin di konsep kepemimpinannya dengan menonjolkan latar belakang sejarah
kepemimpinan, sebab musabab munculnya pemimpin, tipe dan gaya kepemimpinan
serta syarat-syarat kepemimpinan.
Konsepsi
mengenai persyaratan kepemimpinan selalu berkaitan dengan 3 hal antara lain :
1. Kekuasaan
2. Kewibawaan
3. Kemampuan
Macam-macam
teori kepemimpinan menurut H. Koontz dan C.O. Donnel dalam bukunya principles
of manajement :
1. Teori penganut sifat
2. Teori penganut situasi
3. Teori pengikut pemimpin
4. Teori lingkungan
5. Teori tentang perilaku
6. Teori tentang humanistik
7. Teori
tentang interaksi harapan
8. Teori tentang pertukaran
9. Teori tentang siklus hidup
B.
Saran
Dalam sebuah organisasi keberadaan pemimpin memang sangat penting
karena pemimpin sangat menentukan keberhasilan tercapainya tujuan suatu
organisasi. Oleh karena itu, setelah pembaca memahami isi makalah yang dibuat,
penulis berharap teori dalam kepemimpinan bisa di implementasikan dalam
kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Winardi, SE, Asas-Asas Manajemen, Bandung, Alumni,
1979.
Dr. Kartini Kartono,
Pemimpin Dan Kepemimpinan, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1998.
Ukas Maman , Manajemen Konsep, Prinsip dan Aplikasi, 2004,
Agnini Bandung.
M. Karjadi, Kepemimpinan ( Leadership ), Bogor,
1987.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar