KATA PENGANTAR
Dengan
menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan
puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul ‘’SUMPAH PEMUDA’’.
Makalah
ilmiah ini telah penulis susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu penulis
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas
dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar penulis
dapat memperbaiki makalah.
Akhir
kata penulis berharap semoga makalah Sumpah Pemuda ini dapat memberikan manfaat
maupun inpirasi terhadap pembaca.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Semangat Nasionalisme adalah suatu
gejala historis yang lahir dan berkembang sebagai jawaban terhadap kondisi
politik, ekonomi, dan sosial yang khusus
yang ditimbulkan oleh situasi colonial.
( Hans Kohn dalam Kardiat Wiharyanto , 2012 : 1) Semangat Nasionalisme
merupakan semangat kebangsaan yang sudah ada sejak zaman kerajaan. Semangat
inilah yang melatarbelakangi berbagai bentuk pemberontakan terhadap
pemerintahan colonial seperti pemberontakan Maluku, Pemberontakan Saparua,
Perang Diponegoro dan pemberontakan-pemberontakan lain yang terjadi di
Nusantara. Namun semua pemberontakan itu dapat dipadamkan oleh pemerintahan
colonial karena sifatnya yang masih kedaerahan.
Pada 20 Mei 1908 di gedung sekolah
Kedokteran Jawa (STOVIA) Sutomo dan kawan-kawan membangkitkan kembali semangat nasionalisme yang dalam artian lebih
luas dan lebih modern. Dalam menunjukan rasa Nasionalismenya mereka membentuk
organisasi pergerakan nasional pertama yang bersifat modern yaitu Budi Utomo.
Dua Puluh tahun kemudian pada 28 Oktober
1928 dibangkitkan kembali semangat nasionalisme itu. Bila organisas-organisasi
pergerakan sebelumnya masih bersifat kedaerahan, berdasarkan agama ayau
kepentingan tertentu. Pada Sumpah pemuda ini semua pemuda bertekat akan
meninggalkan semua rasa etnosentrisnya dan melebur dalam sebuah wadah yang utuh
tidak berbentengkan suku ras agama dan golongan tertentu.
Sumpah Pemuda merupakan Perpaduan
tekat para pemuda yang dengan penuh semangat di ikrarkan dalam kata-kata yang
di sebut Sumpah Pemuda. Jika Budi Utomo adalah sebuah ikrar kata maka sumpah
pemuda mengambil bentuk yang lebih nyata. Namuan banyak peristiwa yang tak
terungkap. Apakah sebenarnya sumpah pemuda itu? Siapa yang ada dibalik
peristiwa besar ini dan bagaimana organisasi- organisasi pergerakan yang
berbeda latar belakang mampu bersatu dalam ikrar Sumpah Pemuda ini?
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa saja organisasi yang didirikan pemuda
sebelum Sumpah Pemuda?
2.
Apakah latar belakang di selenggarakanya
kongres pemuda I Ddan II sebagai awal Sumpah pemuda.?
3.
Bagimanakah reaksi-reaksi organisasi
pergerakan Indonesia lainya terhadap Sumpah Pemuda?
4.
Apakah Makna dibalik Sumpah Pemuda?
C.
TUJUAN PENULISAN
1.
Untuk menyebutkan dan menjekaskan organisasi
pemuda apa sajakah yang muncul sebelum Sumpah Pemuda
2.
Menjelaaskan latar belakang, proses dan dampak
dari pada Konggres Pemuda I dan II yang sebagai suatu peristiwa yang mengawali
adanya Sumpah Pemuda
3.
Menjelaskan rekasi organisasi-Organisasi
Pergerakan Kemerdekaan lain terhadap Ikrar Sumpah Pemuda
4.
Menjelaskan Makna Dibalik Sumpah Pemuda.
D.
MANFAAT
Manfaat penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk menambah wawasan mengenai
peran sumpah pemuda.
2. Memberi informasi mengenai masa
sebelum dan sesudah merdeka.
3. Memberi informasi bagaimana cara
mengapresiasikan sumpah pemuda pada era modern.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
ORGANISASI PEMUDA
YANG MUNCUL SEBELUM SUMPAH PEMUDA
1. Tri Koro Dharmo
Tri Koro Darmo adalah organisasi
pemuda yang merupakan bagian dari Budi Utama. Tri Koro Darmo lahir dari rasa
ketidakpuasan dari golongan muda atas gerak langkah Budi Utama yang cenderung
konservatif dan kurang bisa menampung aspirasi para pemuda. Pada7 Maret 1915,di
Gedung Boedi Oetomo Stovia Jakarta, para pemuda sepakat untuk mendirikan
organisasi pemuda yang berfungsi sebagai tempat latihan bagi calon-calon pemimpin
bangsa atas dasar kecintaan kepada tanah airnya. Perkumpulan para pemuda itu
diberi nama Tri Koro Dharmo, yang mengandung arti tiga tujuan yang mulia.
Jabatan ketua diemban oleh oleh Satiman Wirjosandjojo, wakil ketuan Soenardi
(Mr.Wongsonegoro), dan sekertaris Soetomo. Pengurus lain diantaranya adalah
Muslich, Musodo, dan Abdul Rachman.
Sesuai dengan namanya, Tri Koro Dharmo
memiliki tujuan, yaitu:Menyelenggarakan pertalian antara murid-murid bumi putra
di berbagai sekolah, Mengusahakan peningkatan kemampuan umum, Membangkitkan
minat dan mempertajam rasa terhadap bahasa dan budaya di wilayah Indonesia.
Pada 12 Juni 1918, Tri Koro Dharmo
yang sejak 1917 diketuai oleh Sutardiaryodirejo melakukan kongres di Solo.
Kongres itu menghasilkan dua keputusan, yaitu tentang ruang lingkup keanggotaan
dan nama organisasi, serta mengenai kepengurusannya. Nama Tri Koro Dharmo yang
sangat jawasentris diganti dengan nama Jong Java. Dengan begitu diharapkan
pemuda-pemuda Sunda, Madura, Bali, dan Lombok diharapkan bisa ikut memasuki
organisasi tersebut. Tujuan pengubahan organisasi adalah untuk membangun
persatuan Jawa Raya, yang dapat dicapai dengan jalan mengadakan suatu ikatan
yang baik di antara murid-murid sekolah menengah, berusaha meningkatkan
kepandaian anggotanya, dan menimbulkan rasa cinta terhadap budaya sendiri.
Dalam kongres itu, dipilihlah Sukiman Wirjosandjojo sebagai ketua. Beliau
inilah yang di kemudian hari terpilih menjadi ketua Perhimpunan Indonesia di
Belanda.
Sampai kongres terakhirnya pada 23
Desember 1929, Jong Java telah sepuluh kali melakukan kongres, dan menghasilkan
keputusan-keputusan penting yang sangat berpengaruh terhadap perjuangan para
pemuda di masa selanjutnya. Keputusan-keputusan tersebut diantaranya adalah
:Disetujuinya seorang wanita untuk duduk dalam pengurus besar dan anggota
redaksi majalah Jong Java, serta usaha untuk menterjemahkan surat-surat yang
ditulis oleh Kartini. Ini berarti pengakuan hak wanita disamakan dengan pria
sebagai kelanjutan usaha emansipasi Kartini. Pada kongres ketiganya,
bahasa-bahasa daerah seperti Jawa, Bali, Sunda, Makasar, dan Lombok boleh
dipergunakan, asalkan dengan diterjemahkan dalam bahasa Belanda. Adanya
cita-cita untuk membangun Jawa Raya dengan jalan membina persatuan diantara
golongan-golongan di Jawa dan Madura untuk mencapai kemakmuran bersama.
Walaupun masih sebatas Jawa dan Madura, hal tersebut menjadi bibit awal bagi
terbentuknya integrasi bangsa.
Setelah kongres pemuda I pada tahun
1926, faham persatuan dan kebangsaan Indonesia semakin meningkat di kalangan
anggota Jong Java. Pada kongres VII 27-31 Desember 1926 di Surakarta, Jong Java
yang diketuai Sunardi Djaksodipuro (Mr.Wongsonegoro) membuat putusan untuk
merubah tujuan dan ruang gerak organisasi tersebut. Tujuan tidak hanya
membangun Jawa Raya saja, tetapi pada saatnya nanti, Jong Java juga harus
bercita-cita membangun persatuan dan membangun Indonesia Merdeka. Ruang lingkup
yang dirambah organisasi tersebut juga mulai memasuki dunia Politik. Pada tahun
1928, organisasi ini siap bergabung dengan organisasi kepemudaan lainnya dan
ketuanya R. Koentjoro Poerbopranoto, menegaskan kepada anggota bahwa pembubaran
Jong Java, semata-mata demi tanah air. Oleh karena itu, maka terhitung sejak
tanggal 27 Desember 1929, Jong Javapun bergabung dengan Indonesia Moeda.
2. Jong Sumatranen
Bond
Berdirinya Jong Java di Batavia
memberikan inspirasi bagi pemuda-pemuda Sumatra yang sedang belajar di Batavia
untuk mendirikan organisasi serupa. Jong Sumatranen Bond (JSB) adalah
perkumpulan yang bertujuan untuk mempererat hubungan di antara murid-murid yang
berasal dari Sumatra, mendidik pemuda Sumatra untuk menjadi pemimpin bangsa
serta mempelajari dan mengembangkan budaya Sumatra. Untuk mecapai tujuan
tersebut, usaha-usaha yang dilakukan antara lain adalah dengan menghilangkan
adanya prasangka etnis di kalangan orang Sumatra, memperkuat perasaan saling
membantu, serta bersama-sama mengangkat derajat penduduk Sumatra dengan jalan
menggunakan propaganda, kursus, ceramah-ceramah, dan sebagainya.
Perkumpulan ini didirikan pada tanggal
9 Desember 1917 di Jakarta. JSB memiliki delapan cabang, enam di Jawa meliputi
Batavia, Bogor, Bandung, Serang, Sukabumi, dan Purworejo, serta dua di Sumatra,
yakni di Padang dan Bukittinggi. Beberapa tahun kemudian, para pemuda Batak
keluar dari perkumpulan ini dikarenakan dominasi pemuda Minangkabau dalam
kepengurusannya. Para pemuda Batak ini membentuk perkumpulan sendiri, Jong
Batak.
Surat kabar Jong Sumatra terbit
pertama kali pada bulan Januari 1918. Dengan jargon Organ van Den Jong
Sumatranen Bond, surat kabar ini terbit secara berkala dan tidak tetap, kadang
bulanan, kadang triwulan, bahkan pernah terbit setahun sekali. Bahasa Belanda
merupakan bahasa mayoritas yang digunakan kendati ada juga artikel yang memakai
bahasa Melayu. Jong Sumatra dicetak di Weltevreden, Batavia, sekaligus pula
kantor redaksi dan administrasinya.
Surat kabar Jong Sumatra memainkan
peranan penting sebagai media yang menjembatani segala bentuk reaksi atas
konflik yang terjadi. Dalam Jong Sumatra edisi 12, th 1, Desember 1918,
seseorang berinisial Lematang mempertanyakan kepentingan kaum adat. Sambutan
positif juga datang dari Mohamad Anas, sekretaris JSB. Anas mengatakan dengan
lantang bahwa bangsa Sumatra sudah mulai bangkit dari ketidurannya, dan sudah
mulai memandang keperluan umum.
Kepekaan Yamin pentingnya bahasa
identitas sudah mulai terlihat dalam tulisannya di Jong Sumatra no 4, th 3,
1920. Jong Sumatra berperan penting dalam memperjuangkan pemakaian bahasa
nasional, dengan menjadi media yang pertama kali mempublikasikan gagasan Yamin,
mengenai bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Semakin besarnya kesadaran
nasional dan semakin luasnya penggunaan bahasa melayu di kalangan mereka, maka
nama organisasi yang sebelumnya masih menggunakan bahasa Belanda, diganti
dengan nama Pemuda Sumatra. Pemuda Sumatra ini.
3. Jong Ambon
Organisasi Ambon Muda atau
Pemuda-pemuda Ambon didirikan pada tanggal 9 Mei 1920. Maksud dan tujuannya
adalah menggalang persatuan dan mempererat tali persaudaraan di kalangan
pemuda-pemuda yang berasal dari daerah Ambon (Maluku). Pendirinya adalah A.J.
Patty, seorang pemuda dari Maluku. Ia memperssatukan organisasi-organisasi
orang ambon dengan menggunakan organisasi yang telah ia dirikan sebelumnya,
Serikat Ambon, di Semarang. Karena dianggap menentang kebijakan Belanda, ia
ditangkap dan diasingkan ke berbagai tempat seperti Ujung Pandang, Bengkulu,
Palembang, dan Flores. Ditangkapnya Patty sedikit menyebabkan kemunduran
organisasi tersebut, hingga akhirnya muncul tokoh baru, Mr. Latuharhary.
4. Jong Minahasa
Organisasi pemuda yang didirikan oleh
para pemuda pelajar menengah yang berasal dari kelompok etnis Minahasa pada
tanggal 24 April 1919 di Jakarta. Jong Minahasa artinya “Minahasa Muda” atau
“Pemuda Minahasa”. Maksud dan tujuannya adalah menggalang dan mempererat
persatuan dan tali persaudaraan di kalangan pemuda – pemuda (pelajar) yang
berasal dari Minahasa. Organisasi ini merupakan kelanjutan dari organisasi yang
didirikan sejak tahun 1912 di Semarang, yakni Rukun Minahasa. Di antara
pemimpin JongMinahasa yang paling dikenal adalah Ratulangi. Berdirinya
organisasi ini bermula dari kebutuhan praktis yang selalu menekan kehidupan
para pemuda pelajar di perantauan. Kehidupan terpisah dari sanak keluarga dan
hubungan dengan lingkungan asing dan orang-orang yang berasal dan latar
belakang budaya berbeda-beda menyebabkan mereka mencari keserasian hubungan
dengan ternan yang berasal dari daerah yang sarna. Dengan kata lain, organisasi
pemuda ini bermula dari rasa solidaritas yang primordial itu.
Namun, sejalan dengan semakin
meningkatnya rasa kesadaran nasional di antara kaum pergerakan, organisasi ini
pun tidak luput dari pengaruh politik. Hal ini tampak pada keikutsertaan Jong
Minahasa dalam pertemuan pemuda pada tanggal 15 November 1925 di gedung Lux
Orientis di Jakarta. Pertemuan ini dihadiri oleh wakil-wakil Jong Java, JSB,
Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Rukun dan beberapa wakil dari organisasi
pemuda lainnya. Dalam pertemuan ini dibicarakan kemungkinan untuk mengadakan
pertemuan pemuda yang luas dan mencakup berbagai organisasi. Mereka bersepakat
membentuk sebuah panitia untuk mempersiapkan “Kerapatan Besar Pemuda”, yang
kelak berkembang menjadi Kongres Pemuda pertama pada tanggal 30 April 1926 di
Jakarta. Organisasi Jong Minahasa ini tidak berkembang seperti organisasi
pemuda lain, karena sedikitnya pemuda pelajar yang berasal dari Sulawesi. Tokohnya
yang terkenal antara lain G.R. Pantouw.
5. Jong Celebes
(Sulawesi)
Artinya Celebes Muda atau Pemuda
Celebes, yaitu organisasi pemuda-pemuda yang berasal dari seluruh pulau Celebes
(Sulawesi), sehingga jangkauannya lebih luas dari Jong Minahasa. Didirikan pada
tahun 1912. Maksud dan tujuannya adalah mempererat rasa persatuan dan tali
persaudaraan di kalangan pemuda-pemuda (pelajar) yang berasal dari Pulau
Celebes atau Sulawesi. Tokoh-tokohnya yang terkenal antara lain Arnold
Mononutu, Waroruntu dan Magdalena Mokoginta atau dikenal dengan Ibu Sukanto
(Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia yang pertama).
6. Jong Batak
Berdiri pada tahun 1926. Dikenal juga
dengan nama Jong Bataks Bond, adalah perkumpulan para pemuda yang berasal dari
daerah Batak (Tapanuli), yang bertujuan untuk memperat persatuan dan
persaudaraan di antara para pemuda yang berasal dari daerah tadi serta turut
serta memajukan kebudayaan daerah. Salah satu tokoh yang terkenan dari
organisasi ini adalah Amir Sjarifudin.
7. Jong Islamieten
Bond
Selain organisasi-organisasi pemuda
yang berdasarkan ikatan kultural, territorial, dan etnisitas, pada awal abad 20
muncul pula organisasi pemuda yang berdasarkan keagamaan. Organisasi itu adalah
Jong Islamieten Bond. Raden Sam yang berposisi sebagai ketua kongres Jong Java,
mengundurkan diri setelah pada kongres ke VI Jong Java, dua usul darinya
ditolak. Ia kemudian mendirikan perkumpulan Jong Islamieten Bond ini pada 1
Januari 1925. Tujuan pertama pembentukannya adalah untuk mengadakan
kursus-kursus agama Islam bagi para pelajar Islam dan untuk mengikat rasa
persaudaraan antara para pemuda terpelajar Islam yang berasal dari berbagai
daerah di Nusantara dan sebelumnya masih menjadi anggota perkumpulan daerah,
seperti Jong Java (7 Maret 1915), Jong Sumatra (9 Desember 1917), dan
lain-lain. Anggotanya terbuka antara usia 14-30 tahun, sehingga tidak hanya
diisi oleh para pelajar saja.
Secara formal, organisasi ini tidak
bergerak di bidang politik, namun bagi anggota yang berusia lebih dari 18
tahun, boleh mengikuti kegiatan politik. Organisasi ini para anggotanya untuk
lebih ddalam mempelajari Islam sesuai dengan asas dan tujuan organisasi.
Kongres ketiga berlangsung di Yogyakarta pada 23-27 Desember 1927. Lebih banyak
membicarakan masalah-masalah yang dihadapi umat Islam, terutama yang ada
kaitannya dengan cita-cita persatuan dan nasionalisme.
8. Organisasi
Kepanduan
Kepanduan yang sekarang ini lebih
dikenal dengan nama Pramuka sebernanya telah ada sejak awal abad 20 dengan nama
Nederlanche Padvinders Organisatie (NPO). Didirikan oleh John Smith, seorang
Belanda, atas usulan dari kepanduan Belanda, sehingga bersifat
Nederlandosentris.
NPO kemudian berubah nama menjadi
Nederlands Indische Padvinders Vereeneging. Setelah perubahan itu, barulah
orang-orang bumi putera bisa masuk mengikuti kegiatannya. Pada 1916, organisasi
kepanduan bumi putera pertama berdiri dengan nama Javaanse Padvinders
Organisatie (JPO) di Mangkunegaran Surakarta, yang tak bisa dilepaskan dari
peran Mangkunegoro VII, seorang bangsawan Jawa yang aktif di Boedi Oetomo saat
masih muda.
Organisasi Kepanduan yang muncul di
masa itu digunakan para pemuda untuk meningkatkan budi luhur, ketrampilan dan
kepribadian, serta memupuk bakat kepemimpinan. Hal itu semua berguna untuk
meningkatkan rasa kebangsaan para pemuda. Sejalan dengan itu,
organisasi-organisasi kebangsaan mendirikan organisasi kepanduan
sendiri-sendiri yang berada di bawah naungannya. Boedi Oetomo mendirikan
Nationale Padvinderij pada 1924 di bawah pimpinan Daslan Adiwarsito. Serikat
Islam mendirikan Wina Tamtama pimpinan A. Zarkasih. Pada 1923 berdiri Nationale
Padvinders Organisatie (NPO) di bawah pimpinan Usman, sedangkan di Jakarta
berdiri Jong Indonessche Padvinders Organisatie (JIPO). Di Yogyakarta,
Muhammadiyah juga mendirikan Hizbul Watban pada tahun 1923 di bawah pimpinan
Djumairi. Organisasi pemudapun ikut mendirikan kepanduan. Jong Java mendirikan
Jong Java Padvinders, Jong Islamieten Bond mendirikan Nationale Islamistiche
Padvinders. Selain itu juga ada Pandu Pemuda Sumatera yang didirikan Pemuda
Sumatera.
Semakin maraknya organisasi kepanduan
bumi putera yang muncul, ternyata semakin menyuburkan faham kebangsaan di tanah
air. Hal ini diantisipasi oleh pemerintah kolonial. Usaha-usaha dilakukan untuk
memecah organisasi-organisasi kepanduan yang ada, atau setidaknya mengurangi
kegiatan-kegiatan kepanduan bumi putera yang berbau menyebarkan faham
kebangsaan. Salah satunya adalah larangan menggunakan nama Padvinders atau
Padvinderij sebagai nama kepanduan. Atas aturan tersebut, maka sejak tahun
1928, nama Belanda itu diganti dengan nama Pandu atau Kepanduan, hal ini
berlaku untuk semua organisasi kepanduan yang ada.
Dengan demikian, keberadaan organisasi
kepanduan ini kemudian dimanfaatkan oleh organisasi-organisasi kebangsaan untuk
menyebarkan dan memperkuat kesadaran nasional di lingkungan para pemuda
Indonesia. Walaupun organisasi-organisasi kepanduan itu memiliki asas yang
berbeda, namun ada satu kesamaan yang mendasar, yaitu nasionalisme Indonesia.
Organisasi pemuda
yang lahir menjelang Sumpah Pemuda
Di awal abad XX, organisasi pemuda
yang muncul lebih bersifat primordial, namun dalam perkembangannya organisasi
pemuda telah mengarah pada sifat kebangsaan, dan telah menunjukkan tanda-tanda
untuk menuju pada integrasi bangsa.
9. Perhimpunan
Pelajar-Pelajar Indonesia
Bersamaan dengan perkembangan
Perhimpunan Indonesia di Belanda, di dalam negeri pun semakin berkembang
pendidikan tinggi, sehingga terjadilah perkembangan baru dalam sejarah
pergerakan nasional di tanah air. Keduanya saling mempengaruhi. Semakin
banyaknya kaum terpelajar di Indonesia, timbul gagasan untuk ikut berperan
aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Mereka kemudian membentuk organisasi yang
diberi nama Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) pada 1926 yang beranggotakan
mahasiswa dan pelajar sekolah tinggi. Ide pendirian PPPI ini digagas oleg
Djaksodipuro.
Organisasi ini bertujuan untuk
menyatukan organisai-organisasi pemuda yang telah ada, yang umumnya memiliki
latar belakang budaya, lokalitas, dan etnisitas yang berbeda. Adapun tokoh PPPI
itu adalah Sogondo Djojopuspito, Sigid Abdul Sjukur, Gularso, Sumitro,
Samidjono, Hendromartono, Subari, Rohdjani, Amir Sjarifuddin, dll. Sugondo
Djojopuspito adalah ketua Kongres Pemuda II.
PPPI tidak hanya bergerak di dalam negeri
saja. Mereka juga menjalin hubungan dengan Perhimpunan Indonesia di negeri
Belanda. PI sewaktu-waktu mengirimkan majalah Indonesia Merdeka ke Indonesia,
seementara PPPI mengirimkan majalah Indonesia Raya ke negeri Belanda. Namun
terkadang hal tersebut mendapat halangan dari Pemerintah Belanda maupun
pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sikap PPPI dengan mempersatukan
organisasi-organisasi kedaerahan yang telah ada merupakan bukti kecintaan
terhadap persatuan bangsa. Hal ini berarti para pemuda telah memasuki babak
baru dalam pergerakan nasional, yakni telah berani bergerak dalam dunia politik
demi masa depan bangsanya, dengan tidak lupa mendorong para anggotanya untuk
terus rajin belajar.
10. Pemuda Indonesia
Berdiri pada tanggal 27 Februari 1927
di Bandung sebagai tindak lanjut dari Algemeene Studie Club yang dipimpin
Soekarno. Pemuda Indonesia ini beranggotakan para pemuda yang berumur 15 tahun
ke atas, yang sebagian besar berasal dari pelajar-pelajar AMS dan mahasiswa RHS
dan STOVIA.
B.
KONGRES PEMUDA SEBAGAI
AWAL SUMPAH PEMUDA
Perhimpunan Indonesia yang berada jauh
di luar Indonesia mempunyai pengaruh yang besar terhadap semangat pemuda-pemuda
di Indonesia. Para pemuda ini akhirnya menyadari akan pentingnya kebebasan,
yakni merdeka dari penjajahan. Jadi, para pemuda Indonesia tergugah semangatnya
untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.Untuk merealisasikan hal tersebut
diadakanlah Kongres Pemuda.Kongres ini berlangsung dalam dua tahap yakni
Kongres Pemuda I dan Kongres Pemuda II.
a. Tujuan
diadakannya Kongres Pemuda I
Para panitia yang
sudah terbentuk bekerja secara sukarela, mereka bekerja keras untuk mencapai
tujuan yang mulia. Tujuan Kongres adalah untuk menggugah semangat kerja sama
antar organisasi pemuda di tanah untuk meletakkan dasar persatuan Indonesia.
Organisasi-organisasi
pemuda yang ada masih bersifat kedaerahan, misalnya saja Jong Java yang ingin mempersatukan pemuda-pemuda Jawa
dala persatuan Jawa Raya. Selain Jong Java, organisasi-organisasi lain yang
berkembang adalah Jong Sumatra, Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong
Celebes dan lain sebagainya. Pada kongres ini, dari semua perkumpulan pemuda di
berbagai daerah mempunyai tujuan yang sama yakni semangat persatuan.
b. Kepengurusan
dalam Kongres Pemuda I
Dalam mencapai
tujuan semangat persatuan, dibentuklah Panitia Kongres pada tanggal 15 November
1925. Susunan panitianya adalah sebagai berikut :
Ketua : M.Tabrani
Wakil ketua
: Sumarto
Sekretaris
: Jamaluddin
Bendahara
: Suwarso
Pembantu :
Bahder Johan, Yan Toule Soulehuwiy, Sarbini, Paul Pinontoan, Sanusi Pane dan
Hamami.
Kongres Pemuda
pertama ini akhirnya dapat dilaksanakan.Kongres ini dibuka pada tanggal 30
April 1926 dan berakhir 2 Mei 1926 sesuai dengan jadwal yang telah
ditentukan.Kongres ini dihadiri oleh wakil-wakil dari organisasi kepemudaan
yang ada. Organisasi-organisasi tersebut meliputi Jong Java, Jong Sumatra,
Sekar Rukun, Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Islaitien Bond, Jong Ambon dan
lain-lain. Akan tetapi, karena terbatasnya undangan Kongres I ini hanya
diahdiri oleh 100 orang.Di antara undangan ini, hadir pula seorang Komisaris
Kepala dari Kepolisian Hindia Belanda, Belanda khawatir jika kongres ini dijadijkan
ajang untuk mengecam segala kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda.
c. Hal yang dibahas
dalam Kongres Pemuda I
Acara pokok yang
direncanakan dalam kongres adalah ceramah. Sedangkan pembicara yang akan tampil
ialah Sumarto, Bahder Johan, Moh. Yamin, Paul Pinontoan, Jaksodipuro dan nona
Stien Adam. Pokok-pokok materi yang akan disampaikan adalah masalah persatuan
Bangsa Indoesia, kedudukan dan peranan wanita dalam masyrakat Indonesia, dan
peranan agama dalam gerakan persatuan Bangsa Indonesia.
Pada tanggal 2
Mei 1926, acara ceramah kemudian dilanjutkan dengan sidang Panitia Perumus yang
terdiri dari M. Tabrani, Sanusi Pane, Jamaluddin dan Moh.Yamin. Dia menawarkan
konsep rumusan yang intinya berisi tentang bertumpah darah yans satu,tanah air
Indonesia. Mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia dan menjunjung bahasa
persatuan, Bahasa Melayu.
d. Hasil yang
dibahas dalam Kongres Pemuda I
Meskipun dalam
Kongres Pemuda I belum jelas hasilnya, tapi kongres ini telah berhasil dan
dapat menjadi titik tolak bagi kongres pemuda berikutnya.Hal ini sesuai dengan
pendapat Jamaluddin yang menyatakan bahwa Kongres Pemuda Indonesia I merupakan
cetusan kebulatan tekad angkatan muda dalam merintis terwujudnya persatuan
Bangsa Indonesia. Kongres Pemuda I ini
juga dapat dijadikan sebagai titik tolak
untuk mengadakan Kongres Pemuda Indonesia berikutnya pada tahun-tahun yang akan
datang.
Jadi, pada
intinya Kongres Pemuda Indonesia I mengharapkan perserikatan pemuda Indonesia
dalam suatu perkumpulan yang utuh yakni persatuan Bangsa Indonesia.Kongres ini
juga ingin bebas atau merdeka dari penjajah, Indonessia merdeka menjadi ide
dari segala pemuda Indonesia.
2. KONGRES PEMUDA II
Rumusan persatuan Indonesia yang telah
diungkapkan oleh M. Tabrani bersama kawan-kawannya pada Kongres Pemuda I
ternyata memberi dampak positif bagi para pemuda di Indonesia.Para pemuda
tergugah hatinya untuk semangat persatuan, mereka kemudian berkeinginan untuk
melanjutkan Kongres Pemuda I. Gagasan ini muncul pertama kali dari Sugondo
Joyopuspito, pemimpin Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).Mulai dari
sinilah hasrat untuk melanjutkan Kongres Pemuda I semakin kuat, dengan jalan
membentuk Kongres Pemuda II.Kongres Pemuda II berhasil dilaksanakan berkat
bantuan dari berbagai berbagai kalangan, banyak pihak yang mendukung penuh
kelanjutan kongres. Pihak-pihak ini sebagian besar berasal dari pengurus
Kongres Pemuda I. Penyelenggaraan kongres ini berbeda dengan kongres
sebelumnya, Kongres Pemuda II lebih istimewa baik peserta, isi kongres maupun
tempat pelaksanaan kongres.
a.
Kepengurusan dalam Kongres Pemuda II
Di awal sudah
dijelaskan bahwa gagasan tentang kelanjutan Kongres Pemuda I diungkap oleh
Sugondo Joyopuspito. Untuk merealisasikan keinginan ini, Sugondo Joyopuspito
bekerja sama dengan kawan-kawannya yaitu Darwis, Sigit, Suwiryo, dan Gularso.
Berkat dukungan kerja sama dari berbagai
organsisasi-organisasi kepemudaan maka diselenggarakanlah Kongres Pemuda
II. Untuk mensukseskan kongres maka dibentuklah suatu panitia yang merupakan
wakil dari berbagai organisasi kepemudaan baik yang ada di Indonesia maupun di
luar Indonesia.
Pada perkembangan
selanjutnya, banyak tokoh yang dihubungi untuk turut serta dalam Kongres Pemuda
II.Tokoh-tokoh yang dimaksud adalah Sunarto, Sartono, yang akhirnya bersedia
sebagai penasihat hokum.Selain itu, tokoh penting dalam Kongres Pemuda I juga
turut diundang, yakni Sumarto dan Moh.Yamin. Kedua tokoh dapat memberi gambaran
tentang pengalaman penyelengggaraan terdahulu pada Kongres Pemuda I. Berkat
usaha yang gigih dari Sugondo dan rekan-rekannya, pada bulan Juli 1928 berhasil
dihimpun organisasi kepemudaan untuk mengadakan musyawarah. Berbagai organisasi
itu adalah Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong
Bataks Bond, Jong Islamitien Bond, Pemuda Kaum Betawi, Pemuda Indonesia dan
Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia.
Pertemuan dalam
musyawarah itu menghasilkan susunan panitia Kongres Pemuda II sebagai berikut :
Ketua :
Sugondo Joyopuspito (wakil dari PPPI)
Wakil ketua : Joko Marsaid (wakil dari Jong Java)
Sekretaris : Moh. Yamin (wakil dari Jong Sumatranen Bond)
Bendahara : Amir Syarifudin (wakil dari Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Johan Moh. Tjai (wakil dari Islamitien Bond)
Pembantu II : Kocosungkono (wakil dari Pemuda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (wakil dari Jong Celebes)
Pembantu IV : J. Leimena (wakil dari Jong Ambon)
Pembantu V : Rohyani (wakil dari Pemuda Kaum Betawi)
Penasehat : Sunario, Sartono, M. Nazif, Arnold Mononutu
b. Hal yang dibahas
dalam Kongres Pemuda II
Kongres Pemuda II
diselenggarakan secara istimewa dibanding kongres sebelumnya.Bukti
keistimewaannya adalah penggunaan bahasa sendiri (Bahasa Melayu) sebagai bahasa
pengantar dalam kongres, khususnya ceramah.Penggunaan Bahasa Melayu sebagai
bahasa pengantar menunjukan adanya keberanian dari para pemuda untuk tidak
menggunakan Bahasa Belanda lagi.Persiapan-persiapan menjelang kongres terus
diupayakan, baik tempat, materi, dan tokoh dalam kongres. Tokoh-tokoh dalam kongres sudah menyepakati
empat ceramah yang akan dimusywarahkan. Tema-tema tersebut meliputi :
a.
Persatuan dan Kebangsaan Indonesia oleh Moh.
Yamin
b.
Pendidikan dan Kebangsaan Indonesia oleh Nona
Purnomowulan, S. Mangunsarkoro, Jokosarwono, dan Ki Hajar Dewantara.
c.
Pergerakan Pandu Indonesia oleh T. Ramelan
d.
Pergerakan Pemuda Indonesia dan pergerakan
pemuda di luar Indonesia oleh Sunario (yang kemudian diubah menjadi
Pergerakan Pemuda dan Persatuan
Indonesia).
Di sela-sela sidang, Wage Rudolf
Supratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya dengan permainan biolanya. Sugondo
Joyopuspito mengungkapkan bahwa W.R. Supratman menciptakan sebuah lagu yang
khusus dipersembahakan untuk tanah air bangsa Indonesia. Jadi, pada
perkembangan selanjutnya lagu Indonesia Raya karangan W.R. Supratman dijadikan
sebagai lagu kebangsaan Indonesia.Selain itu, bendera Indonesia Sang Merah
Putih juga mulai dikibarkan.
c. Hasil yang
dibahas dalam Kongres Pemuda II
Kongres Pemuda II
yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 27-28 Oktober 1928 berjalan dengan
lancar. Kongres ini menghasilkan sebuah keputusan . Naskah lengkap tentang
keputusan kongres dijelaskan sebagai berikut :
Putusan
Kerapatan pemuda-pemuda Indonesia yang
diadakan oleh perkumpulan-perkumpulan pemuda Indonesia yang berdasarkan
kebangsaan, dengan namanya Jong Java, Jong Sumatra, Pemuda Indonesia, Sekar
Rukun, Jong Islamitien Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi
dan PPPI; Membuka rapat pada tanggal 27 Oktober dan 28 Oktober 1928 di negeri
Jakarta;
Sesudahnya mendengar pidato-pidato dan
pembicaraan yang diadakan dalam kerapatan tadi; Sesudahnya menimbang segala
isi-isi pidato pembicaraan ini;
Kerapatan lalu mengambil keputusan :
Pertama.
Kami putera dan puteri Indonesia
mengaku bertupah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kedua.
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku
berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga.
Kami putera dan puteri Indonesia
menjunjungg bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Dalam putusan
seperti di atas menunjukan tentang kelahiran Sumpah Pemuda. Jadi, pada hari
terakhir kongres tanggal 28 Oktober 1928 para peserta dari berbagai organisasi
kepemudaan bersama-bersama mengikrarkan keputusan kongres, khususnya pada poin
terakhir. Pada awalnya dikatakan sebagai IKRAR PEMUDA akan tetapi selanjutnya
dikenal sebagai SUMPAH PEMUDA. Dikatakan sebagai Sumpah Pemuda, mungkin karena
ikrar ini diucapkan oleh kaum pemuda. Para pemuda mengucapkan ikrar dengan
penuh khikmad dan semangat persatuan.
Selain itu setelah kongres pemuda II lagu Indnesia raya selalu dikumandangkan
pada rapat-rapat atau kongres-kongres.
Putusan dalam
kongres mengeluarkan keyakinan azas yang wajib dipakai oleh segala
perkumpulan-perkumpulan kebangsaan Indonesia.Keyakinan persatuan Indonesia ini
dengan dasar-dasar yaitu kemauan, sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan dan
kepanduan.
Putusan dalam kongres ini kemudian disiarkan
melalui berbagai media massa seperti surat kabar dan radio. Putusan ini
dibacakan pula di khalayak umum, khususnya organisasi-organisasi kepemudaan
Indonesia.
C.
REAKSI ORGANISAI
PERGERAKAN TERHADAP SUMPAH PEMUDA
Sumpah Pemuda dianggap sebagai sebuah
pergerakan yang mengambil arah baru untuk kemerdekaan. Yaitu dengan melebur
semua semangat kedaerahan, semangat kesukuan dan semangat agama dari semua
pemuda Indonesia kedalam sebuah wadah yang bisa menampung semua rasa
nasionalisme mereka, baik nasionalisme kedaerahan, kesukuan dan agama menjadi
sebuah nasionalisme yang kokoh yaitu nasionalisme Indonesia. Dengan
mengikrarkan sebuah ikrar yang disebut Ikrar sumpah pemuda. Peristiwa ini
adalah sebuah Peristiwa besar yang didengar hingga seluruh Nusantara termasuk
oleh seluruh oragnisasi pergerakan.
Berikut ini reaksi dari oraganisasi-organisasi
pergerakan Indonesia:
1. Budi Utama
Mengubah Arah Geraknya
Budi Utama Organisasi yang
disebut-sebut sebagai oraganisasi yang membangkitkan semangat nasionalisme
awalnya adalah sebuah organisasi yang masih terbatas untuk kalangan priyayi
rendahan jawa. Dan keanggotaanya hanya terbatas untuk orang Jawa dan Madura
saja. Selain itu Budi Utama hanya memfokuskan pergerakanya pada bidang pendidikan
dan kebudayaan saja. Pergerakan
cenderung lunak dann kooperatif dengan pemerintahan kolonial. Budi Utama
memegang prinsip tumbuh seperti pohon beringin yang tumbuh dengan perlahan
namun akirnya dapat bertumbuh besar dan rindang.
Namun setelah mendengar
dikumandangkanya Sumpah Pemuda yang ingin mencapi kemerdekaan dengan cara
menyatukan seluruh semangat nasionalisme dari semua golongan di Indonesia. Budi
Utama sebagai salah satu organisasi pergerakan juga mendukung manifestasi
polotik para anggota. Ikut serta dalam usaha menyatukan Indonesia adalah suatu
keharusan yang dilakukan oleh setiap pergerakan nasional.
Langkah nyata nyata pertama yang
dilakukan oleh Budi Utama adalah Bergabung dengan Permufakatan
Perhinpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). PPPKI adalah
sebuah federasi politik dalam usaha penggalangan persatuan kesatuan sebagai
dampak diadakanya kongres pemuda I. Hal kedua yang dilakukan adalah dengan
Mengubah anggaran dasar tentang keanggotaan yang dilakukan pada saat kongres
tahun 1931. Anggota terbuka Untuk semua warga Negara Indonesia tidak memandang
asal dan suku bangsa. Hal yang ketiga adalah mengubah nama. Nama Budi Utama
yang awalnya menggunakan lafal Budi Utomo diubah menjadi Budi Utama. Hal ini
untuk meninggalkan identitas kesukuanya dan siap membuka diri untuk seluruh
rakyat Indonesia
2. Perhimpunan
Indonesia mendukung lewat surat kawat.
Perhimpunan Indonesia merupakan
organisasi para pelajar dan pemuda Indonesia yang ada di Negeri Belanda. Karena
Keprihatinan mereka terhadap keadaan tanah air dan setelah didengarnya telah
dilaksanakan Kongres Pemuda I yang ingin mengadakan menggabungan oraganisasi
oraganisasi pemuda di seluruh tanah air, maka perhimpunan Indonesia yang ada di
Negeri Belnada Ingin mendirikan organisasi serupa di Indonesia yaitu dengan
Mendirikan PNI pada 4 Juli 1927.
Pengurus dan anggota menyetujui
pendirian PNI yang tujuanya sama dengan tujuan Perhimpunan Idonesia.
Anggota-anggota Perhinpunan Indonesia yang telah selesai menyelesaikan studinya
di Belanda diminta untuk tetap bersaha agar partai itu cepet berdiri untuk
menyatukan dan memperkuat rasa rasionalisme.
Pengurus Perhimpunan Indonesia
mengirim surat kawat kepada pengurus kongres pemuda atas terjadinya sumpah
pemuda tersebut. Dalam surat yang dikirimkan pengurus Perhimpunan Indonesia
mendesak agar pemuda yang belum tamat pelajaranya menyertai PNI. Perhimpunan
Inodesia mengakui sumpah pemuda sebagai pelaksanaan cita-cita perjuanganya.
D.
MAKNA SUMPAH
PEMUDA
1. Sumpah Pemuda
Merupakan Jawaban Tegas Terhadap Politik Devide
Et Impera Belanda.
Menurut Sugondo
Djojopuspito belanda dapat menguasai tanah air dikarenahan tiga hal. Yang
pertama dengan pilitik devide et impera, yang kedua dengan menanamkan rasa
derajat rendah terhadap bangsa Indonesia, yang ketiga membuat penduduk pribumi
tetap bodoh. Dengan Diadakanya kongres pemuda II yang seluruh pemuda
mengikrarkan satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa menunjukan jika
kongres ini adalah jawaban yang sangat tegas dari bangsa Indonesia yang tidak
mudah dipecah belahkan. Hal ini merupakan suatu kegagalan politik bagi
pemerintahan Hindia Belanda.
2. Sumpah Pemuda
Merupakan Pengorbanan Atas Rasa Etnosentrisme dan Primordialisme
Pengorbanan atas
rasa primordialisme di tunjukan dengan penggabungan semua organisasi pemuda
yang bersifat kedaerahan dalam sebuah wadah besar yaitu Jong Indonesia atau
pemuda Indonesia. Selain itu terdapat pula penggabungan beberapa organisasi
pergerakan kemerdekaan melakukan fusi dengan organisasi lain untuk memperkuat
nasionalisme. Kaum muda kemudian menggabungkan diri dalan suatu wadah yang
bernama Indonesia Muda yang tidak mendasarkan pada diri atau kelompok sosial
tertentu.
Adanya kehendak
ingin bersatu akan mengatasi alasan-alasan lain seperti kedaerahan, kesukuan,
keturunan, keagamaan, kepentingan golongan, dan lain sebagainya. Dengan
kehendak untuk bersatu Indonesia sejak itu telah melompati berbagai kendala .
Sejak peristiwa tahun 1928 iitulah, dunia dikejutkan oleh kemampuan dan
kesanggupan bangsa Indonesia untuk bersatu padu dalam kemajemukan.
3. Sumpah Pemuda
Merupakan Perwujudan Kesepakatan Bersama Tanpa Memandang Mayoritas dan
Minoritas
Perwujudan kesepakatan
bersama tanpa memandang golongan mayoritas adalah digunakanya bahasa Indonesia.
Padahal jika dilihat dari jumlah anggota banyak anggota yang berasalkan dari
Jawa dan bahasa ini digunakan oleh sebagian besar rakyat nusantara. Tetapi
untuk menjaga persatuan dan kesatuan mereka menggunakan bahasa Indonesia
sebagai bahasa persatuan mereka. Hal ini menunjukan jika wawasan kebangsaan
tidak berdasakan Etnisitas lagi. Rakyat sudah tidak memandang kewajiban atas
dasar perbedaan cirri-ciri eksklusif.
4. Sumpah Pemuda Merupakan Sebuah Penghapusan
Sistem Feodal
Pada masa
pemerintahan kolonial Belanda berlangsung terjadi perubahan sistem sosia di
Indonesia. Yaitu adanya sebuah stratifikasi penduduk. Penduduk Eropa
digolongkan ke golongan pertama, Orang timur asing digolongkan dalam kelas
kedua sedangkan penduduk bimi putra digolongkan kedalam kelas paling bawah.
Sejak Sumpah
Pemuda diikrarkan dalan diri bangsa Indonesia sudah Tidak ada lagi pengertian
warga Negara kelas satu atau kelas dua. Mereka semua menganggap dirinya sebagai
warga Negara kelas asatu di negaranya sendiri oleh karena itu mereka harus
bersatu untuk mngusir penjajah yang menganggap dirinya golongan nomer sati di
negeri orang.
5. Sumpah Pemuda
Merupakan Upaya Menunjukan Rasa Nasionalisme Melalui Simbol-Simbol Nasionalisme
Upaya menunjukan
rasa nasionalisme melalui symbol-simbol ditunjukan dengan cara penggunaan
bendera merah putih yang diakui sebagi bendera kebangsaa. Selain itu diakuinya
lagu Indoesia Raya ciptaan WR. Supratman sebagai lagu kebangsaan. Setiap ada
pertemuan atau rapat lagu ini selalu dinyanyikan sebagai wujud rasa
nasionalisme dan persatuan para penggerak kemerdekaan.
BAB III
PENUTUP
A.
SIMPULAN
Sumpah Pemuda adalah langkah baru
Nasionalisme yang ada di Indonesia. Para organisasi pemuda seperti Jong Java,
Jong Sumatra Bon, Jong ambon, Jong Minahasa
mengambil langkah baru untuk mencapai cita-cita Indonesia merdeka yaitu
dengan bersatu dalam sebuah wadah yang di sebut Pemuda Idonesia yang kemudian
bersama-sama Mengikrarkan sebuah ikrar yang disebut Sumpah Pemuda. Ikrar ini
adalah sebuah bukti penyatuan tekat untuk melawan pemerintahan Kolonial Belanda
Untuk menyatukan
tekat para pemuda mengadakan kongres yang dikenal dengan Kongres Pemuda.
Kongres Pemuda yang pertama di lakukan 30 April 1926 dan berakhir 2 Mei 1926
dan dilanjutkan dengan Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Pada Kongres
Pemuda II inilah di ikrarkan sebuah Ikrar yang disebut Ikrar Pemuda yang
kemudian di sebut Sumpah Pemuda yang isinya. Pertama. Kami putera dan puteri
Indonesia mengaku bertupah darah yang satu, tanah Indonesia.Kedua.Kami putera
dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.Ketiga. Kami
putera dan puteri Indonesia menjunjungg bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
B.
Saran
Sebaiknya
generasi penerus lebih bisa menyaring segala bentuk jajahan yang bisa merusak
bangsa ini. Salah satu caranya yaitu apabila pemuda dan masyarakat luas merasa
kurang dengan kinerja petinggi negeri ini maka ikutilah cara sejarah yang sudah
tercetak ampuh. Dengan mengadakan kongres penolakan dan menunjukan kegiatan
yang positif dari kongres tersebut. Atau dengan cara negosiasi secara mufakat
agar bangsa ini tidak dikenal sebagai bangsa yang agresif.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyana
Slamet.2008.Kesadaran Nasiobal dari
Koloial sampai Kemerdekaan. Yogyakarta: Lkis
Utomo,Cahyo
Budi. Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia. 1995. Semarang: Unnes Pers
Sudiyo.
1989. Perhimpunan Indonesia sampai dengan Lahirnya Sumpah Pemuda. Jakarta :
Rineka Cipta
Poesponegoro,
Marwati Djonet dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia V.
Jakarta:Balai Pustaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar